Bukan Sekadar Lomba, Pemkot Pekalongan Dorong Pelajar Cintai Batik dan Peluang Usaha Kreatif

Mphnews, Kota Pekalongan – Menyiapkan generasi penerus menjadi salah satu kunci menjaga keberlangsungan batik di tengah semakin berkurangnya pembatik muda.

Hal itu menjadi salah satu semangat Pemerintah Kota Pekalongan melalui lomba membatik tingkat SMA/SMK/MA dan sederajat se-Jawa Tengah yang diikuti 50 pelajar dari berbagai kabupaten/kota, bertempat di Halaman Museum Batik setempat, Kamis (8/10/2026).

Kepala Dinparbudpora Kota Pekalongan, Sabaryo Pramono menyampaikan, lomba tersebut tidak sekadar menjadi ajang kompetisi, tetapi bagian dari upaya mengenalkan batik kepada generasi muda agar mereka tidak hanya mampu membatik, tetapi juga tumbuh rasa cinta terhadap budaya tersebut.

“Tujuan penyelenggaraan lomba ini yang jelas adalah pelestarian. Kita tahu semakin ke depan pembatik-pembatik kita usianya semakin sepuh, sehingga perlu adanya generasi penerus,” ujarnya.

Ia menyebutkan, dari sekitar 60 peserta yang mendaftar, sebanyak 50 peserta lolos seleksi motif dan gambar untuk mengikuti lomba. Mereka berasal dari sejumlah kabupaten/kota di Jawa Tengah. Menurutnya, keterlibatan pelajar dalam lomba diharapkan menjadi bagian dari proses regenerasi pembatik.

Peserta didorong untuk mulai mengenal, mempraktikkan, hingga mencintai batik sebagai warisan budaya takbenda yang telah diakui UNESCO.

“Mulai dari siswa-siswi inilah kita upayakan untuk mulai mengenal, mulai mempraktikkan, bahkan akhirnya bisa mencintai batik. Sehingga regenerasi pembatik ini sendiri bisa berjalan, batik masih bisa eksis di Kota Pekalongan,” tandasnya.

Selain pelestarian budaya, proses membatik juga dinilai sarat dengan pendidikan karakter. Ketelitian, kesabaran, dan ketekunan diperlukan dalam setiap tahapan pembuatan batik.

“Dalam satu lembar kain kita bisa belajar banyak hal. Pertama belajar sabar, kemudian teliti, karena satu tetes malam apabila salah menempatkan bisa merusak,” sambungnya.

Keterampilan membatik juga dinilai memiliki prospek kewirausahaan. Dengan nilai jual kain batik tulis yang dapat mencapai jutaan rupiah, kemampuan tersebut dapat menjadi bekal bagi generasi muda untuk mengembangkan usaha di bidang ekonomi kreatif.

Lebih lanjut Wakil Wali Kota Pekalongan, Balgis Diab mengapresiasi penyelenggaraan lomba tersebut. Ia melihat, kehadiran peserta dari berbagai daerah menunjukkan tingginya antusiasme generasi muda terhadap batik.

“Dengan lomba membatik ini kita tidak hanya mencari juara saja, tetapi ada hal lain yang lebih penting, yaitu terus melestarikan batik sebagai warisan budaya takbenda dan menghasilkan karya-karya terbaik anak bangsa,” ungkapnya.

Ia menilai, antusiasme peserta menjadi modal positif bagi keberlanjutan batik. Para pelajar datang bukan hanya untuk mengejar prestasi, tetapi juga karena memiliki ketertarikan terhadap proses membatik.

“Mereka hadir di sini tidak hanya ingin mencari kejuaraan, tetapi memang sudah cinta dan senang dengan proses membatik ini,” imbuhnya.

Balgis berpesan agar peserta tidak menjadikan juara sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan. Pengalaman mengikuti lomba dan menjalani proses menciptakan karya batik dinilai jauh lebih penting bagi pembentukan pengalaman peserta.

“Namanya juga lomba, ada yang menang dan ada yang kalah. Tentu harus ada yang menjadi juara, tetapi bagi peserta juara bukan satu-satunya target. Ada pengalaman dan sesuatu yang tidak didapat di tempat lain,” tukasnya.

Melalui lomba tingkat SMA/SMK/MA dan sederajat se-Jawa Tengah tersebut, Pemkot Pekalongan berharap semakin banyak generasi muda yang mengenal dan mencintai batik, sehingga regenerasi pembatik dapat terus berlangsung dan batik tetap berkembang sebagai warisan budaya sekaligus potensi ekonomi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *