Mphnews – Menjelang 2026, industri otomotif kembali menjadi sorotan sebagai salah satu sektor yang mengalami perubahan paling signifikan. Bukan hanya karena hadirnya teknologi baru, tetapi karena terjadi pergeseran cara berpikir dalam membangun industri. Persaingan antara mesin pembakaran internal (internal combustion engine/ICE) dan kendaraan listrik (electric vehicle/EV) menjadi simbol perubahan besar yang sedang berlangsung.
Pertarungan ini mengingatkan pada sejarah industri otomotif global di era 1990-an, ketika produsen mobil Amerika Serikat terdesak oleh kebangkitan industri otomotif Jepang. Saat itu, sejumlah akademisi dari MIT melakukan kajian mendalam dan menemukan bahwa keunggulan Jepang bukan semata teknologi, melainkan budaya kerja dan sistem manajemen yang dikenal dengan Kaizen atau perbaikan berkelanjutan. Jepang membangun industri yang efisien, minim pemborosan, dan berorientasi jangka panjang.
Pelajaran sejarah tersebut relevan dengan kondisi Indonesia saat ini. Memasuki 2026, pemerintah menggeser kebijakan insentif otomotif agar EV dan ICE bersaing di level yang setara. Tujuannya bukan memilih pemenang teknologi, melainkan mendorong pendalaman industri dan pembangunan ekosistem yang kuat. Industri otomotif tidak berdiri sendiri, melainkan ditopang ratusan hingga ribuan industri pendukung, mulai dari baja, kaca, komponen elektronik, hingga sektor jasa dan tenaga kerja.
Di sisi lain, teknologi kendaraan listrik juga terus berevolusi. Jika sebelumnya baterai berbasis nikel menjadi andalan—dan Indonesia memiliki posisi strategis di sektor ini—kini muncul teknologi baterai baru seperti LFP dan bahkan solid state battery. Perubahan ini menandai bahwa keunggulan berbasis sumber daya alam saja tidak cukup tanpa inovasi dan kesiapan ekosistem.
Fenomena serupa juga terlihat di industri teknologi lain, seperti ponsel dan perangkat digital. Pasar tidak lagi dimenangkan oleh harga murah semata. Yang bertahan adalah perusahaan yang mampu membangun ekosistem, menguasai rantai pasok, dan menciptakan kepercayaan jangka panjang. Persaingan abad ini bukan lagi antarproduk, melainkan antarekososistem.
Contoh nyata di Indonesia dapat dilihat dari Toyota. Saat krisis moneter 1998, ketika daya beli masyarakat anjlok, Toyota meluncurkan Avanza—produk yang dirancang sesuai kebutuhan dan kondisi pasar. Keberhasilan ini tidak lepas dari pemahaman mendalam terhadap masyarakat Indonesia serta jaringan purna jual yang luas dan konsisten.
Kesimpulannya, menghadapi 2026, ketahanan industri tidak ditentukan oleh siapa yang paling cepat masuk pasar atau paling agresif menawarkan harga. Ketahanan dibangun melalui investasi jangka panjang, ekosistem yang kokoh, serta kepercayaan yang tumbuh dari pelayanan dan kontribusi nyata. Di tengah pasar yang semakin bising, kepercayaan tetap menjadi suara yang paling menentukan.












