Hilirisasi Kelapa Jadi Andalan Baru: Potensi Ekonomi Capai Rp4.800 Triliun, Petani Bersiap Naik Kelas

Gambar Ilustrasi Dibuat Dengan AI
Gambar Ilustrasi Dibuat Dengan AI

Mphnews – Kementerian Pertanian kembali melemparkan kabar yang membuat dahi terangkat. Menteri Pertanian Amran Sulaiman menyebut ada satu sektor lama yang selama ini luput dari perhatian negara, namun menyimpan potensi nilai ekonomi mencapai Rp4.800 triliun. Lebih mencengangkan lagi, sektor itu menjadi sumber hidup bagi 28 juta petani. Bukan angka kecil untuk sebuah komoditas yang kerap dianggap “biasa saja”.

Sektor itu adalah kelapa—komoditas tropis yang sejak lama tumbuh subur di hampir seluruh penjuru Nusantara.

Selama ini Indonesia dikenal sebagai produsen kelapa terbesar dunia, dengan volume mencapai 17 hingga 18 juta ton per tahun, atau sekitar 30 persen pangsa global. Jumlah yang membuat Indonesia berdiri di puncak rantai pasokan kelapa dunia. Namun ironisnya, nilai ekspor produk turunan kelapa Indonesia tertinggal dari Filipina dan Thailand, yang produksinya justru jauh lebih kecil.

Filipina, dengan 15 juta ton kelapa per tahun, sudah bertahun-tahun memaksimalkan hilirisasi lewat industri modern yang terintegrasi dengan korporasi-korporasi besar. Thailand bahkan hanya memproduksi sekitar 700 ribu ton, tetapi nilai ekspornya mampu melampaui Indonesia. Sebagian besar perkebunan kelapa di Indonesia dikelola oleh petani kecil, bukan perusahaan besar. Itu sebabnya harga jual kelapa Indonesia masih rendah: sekitar 829 dolar AS per ton, jauh di bawah Filipina yang mencapai 1.035 dolar AS per ton.

Namun peta permainan akan berubah. Indonesia mulai masuk fase hilirisasi kelapa, langkah strategis yang secara perlahan menggeser pola lama ekspor kelapa bulat menjadi industri turunan bernilai tinggi—air kelapa, santan, minyak VCO, coconut powder, coconut milk, dan ratusan produk lainnya.

Dalam skema hilirisasi ini, satu kabar besar datang dari investor raksasa asal Cina, Zijiang Freen Food. Perusahaan ini bukan pemain kacangan: mereka adalah pemimpin industri kelapa di Cina dan pemasok utama minuman berbahan kelapa untuk Luckin Coffee, jaringan kedai kopi yang kini mengalahkan Starbucks dengan lebih dari 29.000 gerai di dunia. Produk coconut latte mereka bahkan terjual 1,2 miliar gelas sepanjang tahun lalu.

Untuk memenuhi permintaan raksasa itu, Zijiang membutuhkan sedikitnya 450 ribu kelapa per hari—angka yang mustahil dipenuhi tanpa pasokan stabil dari negara penghasil utama seperti Indonesia.

Masuknya investasi ini bukan sekadar urusan bisnis, tetapi bagian dari strategi geopolitik pangan Cina, mirip dengan langkah mereka di sektor nikel dan cobalt. Kelapa kini masuk radar komoditas strategis global.

Di Indonesia, proyek hilirisasi ini dimulai dari Sulawesi. Sebuah pabrik raksasa sedang dibangun dengan kemampuan menyerap 500 juta butir kelapa per tahun, dan bakal menyerap 5.000 tenaga kerja pada fase awal. Jika pabrik ini beroperasi penuh, dampaknya bisa revolusioner.

Efek awalnya sudah terlihat. Setelah pemerintah mengumumkan hilirisasi kelapa pada 2024, harga kelapa langsung melonjak dari Rp2.000 menjadi Rp12.000 per butir, bahkan mencapai Rp25.000 di beberapa wilayah. Dan itu baru tahap pengumuman, belum realisasi penuh.

Model hilirisasi ini digadang-gadang mampu mendongkrak nilai ekspor kelapa Indonesia dari Rp24 triliun menjadi Rp2.400 triliun— melonjak 100 kali lipat.

Jika benar terwujud, kelapa akan menjadi “nikkel versi pertanian”: mengubah wajah ekonomi pedesaan dan menempatkan Indonesia sebagai pemain utama dalam industri pangan premium global.

Pertanyaannya kini: apakah transformasi ini akan benar-benar menguntungkan petani? Atau justru melahirkan masalah baru ketika harga produk turunan ikut melonjak di pasar domestik?

Waktu yang akan menjawab. Namun satu hal jelas: kelapa bukan lagi sekadar komoditas tradisional. Ia tengah disiapkan sebagai mesin ekonomi baru Indonesia.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *