Hemat Rp85 Triliun? Potensi Besar Gas Rawa Grobokan Jawa Tengah yang Belum Tergarap Optimal

gambar ilustrasi

Mphnews, Grobokan – Ketika sebagian besar masyarakat Indonesia masih bergantung pada gas elpiji (LPG) untuk memasak, sebuah cerita berbeda justru datang dari pelosok Jawa Tengah. Di Kabupaten Grobogan, warga perlahan meninggalkan tabung gas melon dan beralih ke sumber energi alternatif yang tak pernah terpikirkan sebelumnya: gas rawa.

Gas rawa merupakan gas alam dangkal yang terbentuk dari fosil tumbuhan dan hewan purba di wilayah rawa-rawa. Di Grobogan, gas ini ditemukan pada kedalaman sekitar 30–40 meter, jauh lebih dangkal dibanding eksplorasi migas konvensional. Dengan teknologi sederhana, warga cukup melakukan pengeboran, memisahkan air dan gas melalui tabung separator, lalu menyalurkan gas tersebut langsung ke rumah-rumah menggunakan pipa. Hasilnya, kompor dapat menyala tanpa tabung LPG.

Manfaatnya sangat terasa bagi warga. Jika sebelumnya satu rumah tangga menghabiskan rata-rata Rp100.000 per bulan untuk empat tabung LPG, kini biaya tersebut turun drastis. Melalui sistem berlangganan, warga hanya membayar sekitar Rp25.000 per bulan untuk menggunakan gas rawa tanpa batas. Bagi ibu rumah tangga, ini bukan sekadar penghematan, tetapi juga kepastian energi saat LPG langka atau harganya melonjak.

Fenomena ini menjadi semakin relevan jika melihat kondisi nasional. Indonesia masih mengimpor sekitar 80 persen kebutuhan LPG, dengan nilai impor yang mencapai puluhan triliun rupiah setiap tahun. Ironisnya, sebagian besar gas tersebut berasal dari luar negeri, termasuk Amerika Serikat, sementara di dalam negeri justru tersedia potensi energi alternatif yang belum tergarap optimal. Selain biaya impor, negara juga harus menanggung subsidi LPG rumah tangga yang nilainya diperkirakan mencapai Rp74 triliun per tahun.

Dalam hitungan sederhana, jika gas rawa dikembangkan secara masif—setidaknya di Jawa Tengah yang memiliki sekitar 9,5 juta rumah tangga—potensi penghematan bisa mencapai Rp85 triliun dalam kurun 10 tahun. Dana sebesar itu dapat dialihkan untuk membangun infrastruktur, pendidikan, kesehatan, hingga memperkuat ketahanan pangan nasional.

Namun, di balik potensi besar tersebut, realitas di lapangan masih jauh dari harapan. Sejak pertama kali dimanfaatkan pada 2017, jumlah pengguna gas rawa di Grobogan hanya bertambah dari sekitar 20 menjadi 40 rumah tangga. Minimnya dukungan, keterbatasan regulasi, pendanaan, serta kurangnya perhatian publik membuat inovasi ini berjalan lambat.

Kisah gas rawa Grobogan menunjukkan bahwa kemandirian energi bukan sekadar wacana. Solusinya nyata, dekat dengan rakyat, dan terbukti bekerja. Tantangannya kini bukan pada teknologi, melainkan pada keberanian untuk mendukung, memperluas, dan menjadikannya bagian dari strategi energi nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *