Gen Z Mulai Ogah Kuliah, AI Dinilai Lebih Relevan dari Gelar

Gambar Ilustrasi Dibuat Dengan AI
Gambar Ilustrasi Dibuat Dengan AI

MPHNEWS – Fenomena Generasi Z yang mulai mempertanyakan urgensi kuliah bukan lagi isu pinggiran. Di tengah laju teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI) yang kian pesat, kampus tidak lagi dipandang sebagai satu-satunya gerbang menuju masa depan yang mapan.

Hal inilah yang disorot dalam diskusi Mardigu Wowiek Prasantyo, yang menempatkan perubahan generasi dan pergeseran peran pendidikan sebagai inti persoalan.

Pada masa Baby Boomer hingga Generasi X, gelar akademik merupakan simbol prestise sekaligus kebutuhan nyata. Dunia kerja kala itu masih selaras dengan dunia kampus.

“Ilmu yang dipelajari di bangku kuliah relevan dengan kebutuhan industri, sehingga diploma dan gelar menjadi “tiket emas” untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. Namun, pola tersebut mulai retak saat memasuki era milenial,” jelasnya.

Menurut Mardigu, terjadi anomali besar: dunia usaha berkembang jauh lebih cepat dibandingkan kemampuan kampus dalam menyesuaikan kurikulum.

Di Indonesia, banyak perguruan tinggi masih mengajarkan pola pikir dan materi ala Generasi X, sementara dunia kerja telah bergerak ke era digital dan otomatisasi. Akibatnya, tidak sedikit lulusan perguruan tinggi yang merasa ilmunya tidak nyambung dengan realitas pekerjaan maupun dunia usaha.

Generasi Z melihat ketimpangan ini dengan sangat jelas. Mereka tumbuh di era internet, platform digital, dan kini AI. Bagi Gen Z, gelar bukan lagi jaminan penghasilan. Kemudahan akses ilmu melalui teknologi membuat mereka lebih percaya pada keterampilan praktis, kecepatan belajar, dan kemampuan beradaptasi.

“Inilah yang sering memicu konflik dengan generasi orang tua yang masih memegang paradigma lama: kuliah dulu, baru sukses,” ungkapnya.

Dalam pandangan Mardigu, pendidikan tinggi di era AI seharusnya berfokus pada pembentukan cara berpikir berbasis first principles, penguatan karakter, serta kemampuan memecahkan masalah nyata. AI memang mampu menghasilkan berbagai pilihan dan solusi, tetapi tidak dapat menentukan tujuan hidup manusia.

“Di titik inilah peran pendidikan menjadi krusial: membentuk karakter, ketahanan mental, dan identitas individu melalui proses jatuh bangun,” katamya.

Ia juga mengkritisi sistem pendidikan konvensional yang menekankan pembelajaran individual, sementara dunia kerja menuntut kolaborasi tim. Gelar sarjana pun dinilai sebagai produk sistem lama yang kelulusannya lebih bersifat administratif, bukan verifikasi kemampuan nyata.

Ke depan, Mardigu memprediksi pendidikan akan semakin dinamis. Kurikulum tidak lagi statis bertahun-tahun, melainkan terus diperbarui mengikuti perkembangan zaman. Kampus yang mampu beradaptasi akan menjadi lembaga elit pembentuk manusia unggul. Sebaliknya, kampus yang hanya berfungsi sebagai “pengirim konten” berpotensi tertinggal dan seharusnya bertransformasi menjadi lembaga pelatihan berbasis keterampilan.

Pada akhirnya, pertanyaan kunci bagi generasi masa kini bukan lagi “apa yang harus saya pelajari agar cepat dapat kerja?”, melainkan “masalah sulit apa yang bisa saya selesaikan dengan bantuan AI?”.

“Pendidikan bukan soal gelar, tetapi tentang kemampuan manusia menguasai alat bernama AI tanpa kehilangan jati diri dan kemanusiaannya,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *