Mphnews – Di tengah perubahan lanskap dunia kerja yang kian dinamis, muncul sebuah fenomena baru yang semakin akrab di kalangan pekerja modern: polyworking. Istilah ini merujuk pada praktik menjalani lebih dari satu pekerjaan secara bersamaan, baik dalam bentuk pekerjaan tetap, paruh waktu, proyek lepas (freelance), maupun usaha mandiri.
kerja daring, serta kemudahan kolaborasi jarak jauh memungkinkan seseorang bekerja untuk beberapa klien atau perusahaan tanpa harus terikat ruang dan waktu.
Ada beberapa faktor utama yang mendorong polyworking.
- Pertama, tekanan ekonomi. Kenaikan biaya hidup, inflasi, dan ketidakpastian ekonomi membuat satu sumber pendapatan dirasa tidak lagi aman. Polyworking menjadi strategi bertahan sekaligus upaya memperkuat stabilitas finansial.
- Kedua, keinginan akan diversifikasi karier. Banyak pekerja merasa satu pekerjaan tidak cukup untuk menyalurkan minat, bakat, dan potensi diri. Dengan polyworking, seseorang bisa mengeksplorasi berbagai bidang sekaligus.
- Ketiga, perubahan nilai generasi muda terhadap pekerjaan. Generasi milenial dan Gen Z cenderung tidak lagi terpaku pada konsep karier linear. Mereka lebih menghargai fleksibilitas, makna kerja, dan kebebasan menentukan arah hidup. Polyworking memberi ruang untuk bereksperimen tanpa harus sepenuhnya meninggalkan pekerjaan utama.
Dari sudut pandang perusahaan, polyworking sering dipandang ambigu. Di satu sisi, karyawan yang memiliki banyak pengalaman lintas bidang bisa membawa perspektif baru dan keterampilan beragam.
Fenomena polyworking menandai perubahan besar dalam dunia kerja modern. Ia menunjukkan bahwa konsep “satu orang, satu pekerjaan” semakin ditinggalkan. Ke depan, polyworking berpotensi menjadi norma baru, terutama di sektor ekonomi kreatif, teknologi, dan jasa profesional.
Pada akhirnya, polyworking adalah pilihan. Bagi sebagian orang, ia menjadi jalan menuju kemandirian dan kebebasan finansial.












