Mphnews – Selama ini, banyak orang memahami marketing sebatas aktivitas menjual produk atau jasa. Iklan dianggap hanya sebagai alat promosi agar barang laku di pasaran. Namun, di balik semua itu, marketing sejatinya bekerja pada level yang jauh lebih dalam: membentuk cara manusia memandang realita.
Realita sosial adalah kenyataan yang ada karena kesepakatan bersama dalam masyarakat. Sesuatu disebut “nyata” bukan semata-mata karena wujud fisiknya, melainkan karena manusia sepakat untuk mengakuinya.
Masalah muncul ketika realita sosial yang dibangun bersinggungan dengan realita lain yang lebih objektif, seperti lingkungan dan keberlanjutan.
Para sosiolog membedakan realita sosial menjadi dua: objektif dan subjektif. Realita sosial objektif bersifat stabil, seperti hukum, uang, dan bahasa, yang memiliki konsekuensi nyata jika dilanggar. Sementara realita sosial subjektif hidup dalam pikiran individu, seperti anggapan tentang gengsi, keren, atau status sosial. Realita subjektif inilah yang paling sering dimanfaatkan oleh brand, karena mudah dibentuk dan diubah sesuai kepentingan bisnis.
Persaingan bisnis yang ketat juga melahirkan praktik seperti neuromarketing, yang memanfaatkan ilmu saraf untuk memengaruhi keputusan konsumen tanpa disadari. Emosi, memori, dan sistem penghargaan di otak dimanipulasi agar konsumen memiliki keterikatan emosional dengan merek tertentu. Meski efektif, praktik ini memunculkan pertanyaan etis: apakah wajar jika marketing mengendalikan pilihan manusia hingga ke level bawah sadar?
Namun, marketing tidak selalu bermakna negatif. Prinsip yang sama dapat digunakan untuk membangun realita sosial yang lebih baik, melalui pendekatan social marketing. Pendidikan, misalnya, dapat diposisikan sebagai sesuatu yang menarik dan relevan, bukan membosankan. Nilai-nilai positif bisa dipromosikan dengan strategi yang sama kuatnya seperti promosi produk komersial.
Pada akhirnya, realita sosial di zaman ini ada di tangan manusia sendiri. Marketing bisa menjadi alat perusak jika hanya mengejar profit, tetapi juga bisa menjadi sarana membangun masyarakat yang lebih sadar, beretika, dan berkelanjutan. Pertanyaannya bukan lagi “apa yang kita beli,” melainkan “realita seperti apa yang sedang kita dukung.”












