Mphnews, Tangerang – Pasar Lama Tangerang bukan sekadar kawasan perdagangan tua di Provinsi Banten. Di balik hiruk pikuk aktivitas jual beli, kawasan ini menyimpan jejak panjang sejarah peranakan Tionghoa yang dikenal dengan sebutan Cina Benteng. Istilah ini bukan muncul tanpa sebab, melainkan berkaitan erat dengan sejarah pertahanan dan pembentukan Kota Tangerang sejak ratusan tahun lalu.
Nama “Benteng” merujuk pada benteng-benteng yang dibangun Belanda di sepanjang Sungai Cisadane pada masa kolonial. Benteng tersebut berfungsi sebagai pertahanan dari wilayah Kesultanan Banten yang berada di seberang sungai. Seiring waktu, kawasan sekitar benteng berkembang menjadi pusat permukiman dan perdagangan, yang banyak dihuni oleh komunitas Tionghoa peranakan. Dari sinilah sebutan Cina Benteng melekat hingga kini.
Sejarah mencatat, kedatangan orang Tionghoa ke Tangerang diperkirakan sudah terjadi sejak abad ke-16. Mereka datang melalui jalur laut, masuk dari Teluk Naga, lalu menyusuri Sungai Cisadane. Salah satu titik di Pasar Lama diyakini sebagai dermaga pendaratan pertama. Lokasi ini kemudian berkembang menjadi kawasan niaga sekaligus pusat kehidupan sosial dan budaya masyarakat Tionghoa peranakan.
Keberadaan komunitas Cina Benteng tidak terlepas dari kontribusinya terhadap pembangunan kota. Sebuah prasasti bersejarah mencatat bahwa 81 keluarga peranakan Tionghoa pernah mengumpulkan dana untuk membangun infrastruktur Tangerang, seperti jalan, jembatan, dan fasilitas umum. Prasasti ini kini disimpan dan dilestarikan di Museum Benteng Heritage sebagai bukti peran penting mereka dalam sejarah kota.
Kawasan Pasar Lama juga memperlihatkan wujud akulturasi budaya yang kuat. Salah satu contohnya adalah Masjid Kali Pasir, masjid tua berusia lebih dari 300 tahun yang memiliki arsitektur unik dengan sentuhan pagoda Tionghoa. Keberadaan masjid ini berdampingan dengan kelenteng tua menunjukkan harmoni antarbudaya yang telah terjalin sejak lama.
Salah satu ikon sejarah Cina Benteng adalah Kelenteng Buntek Bio, yang dibangun pada tahun 1684. Kelenteng ini menjadi pusat kegiatan spiritual masyarakat Tionghoa dan masih ramai dikunjungi hingga kini, terutama saat perayaan Imlek dan Cap Go Meh. Bersama dua kelenteng tua lainnya, Buntek Bio menjadi saksi hidup perjalanan panjang komunitas Tionghoa di Tangerang.
Upaya pelestarian sejarah Cina Benteng semakin nyata dengan hadirnya Museum Benteng Heritage. Museum ini merupakan hasil restorasi bangunan berarsitektur Tionghoa dari abad ke-17 dan menjadi museum peranakan Tionghoa pertama di Indonesia. Di dalamnya tersimpan berbagai artefak, cerita keluarga, hingga fakta menarik, seperti rekaman pertama lagu “Indonesia Raya” dalam bentuk piringan hitam oleh peranakan Tionghoa pada 1928.
Hari ini, Pasar Lama Tangerang bukan hanya ruang ekonomi, tetapi juga ruang memori kolektif. Kehidupan masyarakat Cina Benteng yang telah berbaur dengan warga lokal menjadi contoh nyata bagaimana perbedaan budaya dapat hidup berdampingan secara harmonis. Pasar Lama membuktikan bahwa sejarah bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan identitas yang terus hidup dan layak dijaga untuk generasi mendatang.












