Mphnews – Momentum Hari Raya Idul Fitri kembali menjadi penggerak utama roda perekonomian nasional. Aktivitas konsumsi masyarakat meningkat tajam selama Ramadan hingga Lebaran, mulai dari belanja kebutuhan pokok, pakaian, hingga biaya mudik. Namun, di balik euforia tersebut, tantangan ekonomi justru mulai terlihat setelah periode Lebaran usai.
Ekonom menilai, fase pasca Lebaran menjadi ujian sesungguhnya bagi daya tahan ekonomi domestik. Tidak adanya momentum besar dalam waktu dekat membuat potensi perlambatan konsumsi semakin terbuka lebar.
Di dalam negeri, perilaku masyarakat juga mulai berubah. Jika sebelumnya konsumsi menjadi pendorong utama pertumbuhan, kini masyarakat cenderung lebih berhati-hati dalam membelanjakan uangnya.
Selain faktor kehati-hatian, tekanan daya beli juga dipicu oleh inflasi yang terus merangkak naik. Hingga Februari 2026, inflasi tahunan tercatat mendekati 5 persen.
Tak hanya itu, beban keuangan masyarakat juga bertambah dengan meningkatnya penggunaan pinjaman online.
Dari sisi pelaku usaha ritel, tren serupa juga mulai terasa. Meski periode Ramadan dan Lebaran tetap menjadi puncak penjualan, konsumen kini lebih selektif. Mereka cenderung memprioritaskan kebutuhan utama dan aktif mencari promo atau diskon.
“Belanja tetap ada, tapi lebih hati-hati. Produk non-esensial mulai ditinggalkan,” ujar perwakilan pelaku usaha ritel.
Kondisi ini membuat sektor ritel harus beradaptasi. Strategi seperti pemberian diskon, efisiensi operasional, hingga penguatan kanal penjualan online menjadi langkah yang ditempuh untuk menjaga penjualan tetap stabil.
Meski demikian, secara umum konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama ekonomi Indonesia dengan kontribusi lebih dari 50 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Di sisi lain, pemerintah juga menghadapi tantangan tidak ringan. Tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) meningkat seiring perubahan asumsi makro seperti harga minyak dan nilai tukar rupiah. Pemerintah pun dituntut menjaga defisit fiskal tetap terkendali di bawah 3 persen PDB.
Pengamat menilai, langkah menjaga stabilitas harga, khususnya energi, menjadi krusial. Kebijakan subsidi yang adaptif dinilai perlu agar tidak membebani fiskal, namun tetap melindungi daya beli masyarakat.
Memasuki periode pasca Lebaran, konsumsi diperkirakan akan mengalami normalisasi. Penurunan ini merupakan pola musiman yang terjadi setiap tahun setelah lonjakan belanja selama Ramadan.
Pada kuartal pertama 2026, pertumbuhan ekonomi masih diprediksi cukup kuat, didorong oleh momentum Lebaran dan percepatan belanja pemerintah. Namun, tantangan diperkirakan muncul pada kuartal berikutnya, ketika efek musiman mulai memudar dan tekanan inflasi meningkat.
Jika tidak diantisipasi dengan baik, perlambatan konsumsi dapat berdampak luas, mulai dari penurunan penerimaan pajak hingga terganggunya lapangan kerja.
Karena itu, sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat menjadi kunci. Stabilitas harga, kelancaran distribusi barang, serta kepercayaan pasar harus terus dijaga agar ekonomi tetap bergerak di tengah tekanan.
Pada akhirnya, menjaga daya beli masyarakat bukan sekadar soal konsumsi, tetapi juga menjadi fondasi utama bagi ketahanan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.












