Mphnews, Batam – Pulau Batam kian menunjukkan perannya sebagai pusat ekonomi regional yang strategis di kawasan perbatasan Indonesia–Singapura. Sepanjang 2025, Batam mencatat lonjakan signifikan kunjungan wisatawan mancanegara, khususnya dari Singapura, yang datang bukan hanya untuk berwisata, tetapi juga memenuhi kebutuhan belanja bulanan.
Berdasarkan data kunjungan, lebih dari satu juta wisatawan asing tercatat datang ke Batam sepanjang 2025. Sekitar 60 persen di antaranya merupakan warga negara Singapura. Angka ini menunjukkan peningkatan lebih dari 20 persen dibandingkan tahun sebelumnya dan menegaskan posisi Batam sebagai destinasi favorit warga negeri jiran.
Fenomena ini tidak lepas dari kondisi ekonomi Singapura yang sedang mengalami tekanan. Tingginya inflasi, meningkatnya biaya hidup, serta gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor teknologi dan properti membuat daya beli masyarakat menurun. Harga kebutuhan pokok di Singapura pun jauh lebih mahal dibandingkan Indonesia, sehingga belanja lintas negara menjadi pilihan rasional bagi banyak warganya.
Perbandingan harga menunjukkan disparitas yang cukup tajam. Produk seperti beras, ayam, telur, hingga minyak goreng di Batam bisa dibeli dengan harga jauh lebih murah dibandingkan Singapura. Kondisi ini membuat warga Singapura memilih berbelanja di Batam karena dengan dana yang sama, mereka dapat memperoleh barang lebih banyak.
Potensi ekonomi dari fenomena ini dinilai sangat besar. Rata-rata pengeluaran warga Singapura untuk belanja lintas negara mencapai sekitar Rp3,9 juta per kunjungan. Jika Indonesia mampu menarik setidaknya 10 persen dari total warga Singapura yang selama ini berbelanja ke Johor Bahru, Malaysia, maka Batam berpeluang memperoleh perputaran uang hingga Rp7,8 triliun per tahun. Angka tersebut bahkan bisa meningkat dua kali lipat jika daya tarik Batam terus diperkuat.
Namun demikian, masih terdapat sejumlah tantangan yang perlu dibenahi. Biaya transportasi feri dari Singapura ke Batam relatif mahal dibandingkan rute Singapura–Johor Bahru. Selain itu, faktor keamanan dan kualitas pelayanan publik juga menjadi perhatian penting agar kepercayaan wisatawan tetap terjaga.
Para pengamat menilai, momentum ini seharusnya dimanfaatkan secara serius oleh pemerintah melalui kebijakan strategis, seperti subsidi transportasi, peningkatan keamanan, serta perbaikan infrastruktur dan layanan wisata. Dengan pengelolaan yang tepat, Batam berpotensi menjadi motor penggerak devisa nasional dari sektor pariwisata dan perdagangan lintas negara.












