Mphnews – Australia tengah menyiapkan langkah besar memasuki perekonomian Indonesia melalui sebuah strategi jangka panjang bertajuk Invested: Australia’s Southeast Asia Economic Strategy to 2040. Dokumen resmi ini bukan sekadar rencana diplomasi, tetapi peta jalan terstruktur yang memetakan bagaimana Australia akan memperkuat posisinya di Indonesia hingga dua dekade ke depan. Pendekatannya dilakukan melalui pendanaan besar-besaran, identifikasi proyek strategis, serta dorongan agresif bagi perusahaan Australia untuk menanamkan modal di Tanah Air.
Australia memiliki AUD 4 triliun dana pensiun atau superannuation fund, salah satu yang terbesar di dunia. Selama ini dana tersebut banyak diinvestasikan di Amerika Serikat dan Eropa. Namun kini pemerintah Australia secara terbuka menyatakan niatnya untuk mengalihkan investasi ke Asia Tenggara, dengan Indonesia sebagai target utama. Langkah ini sejalan dengan proyeksi ekonomi global yang menempatkan Indonesia sebagai salah satu calon ekonomi terbesar di dunia pada 2040.
Dalam dokumen itu, Australia secara gamblang menyebut Indonesia sebagai “mesin ekonomi baru”, didukung oleh kelas menengah 47 juta jiwa, 220 juta pengguna internet, pertumbuhan kota besar, serta konsumsi domestik yang menyumbang lebih dari separuh PDB nasional. Kondisi ini menjadikan Indonesia sebagai pasar masa depan yang tidak boleh dilewatkan dalam kompetisi global.
Untuk memuluskan ekspansi ini, Australia telah menyiapkan serangkaian fasilitas pendanaan. Di antaranya AUD 2 miliar melalui skema pembiayaan khusus untuk Asia Tenggara, serta AUD 100 juta dana pendukung proyek hijau dan iklim. Selain itu, universitas, sektor swasta, dan lembaga keuangan Australia juga diberikan “jalur cepat” untuk memperluas operasi mereka di Indonesia. Bahkan, Australia bersama Danantara telah menggelontorkan USD 3 miliar untuk proyek transportasi, energi hijau, logistik digital, dan kesehatan.
Yang paling signifikan, Australia telah mengidentifikasi 117 proyek strategis di Indonesia yang siap dimasuki modal. Proyek-proyek tersebut meliputi sektor vital seperti rumah sakit, energi terbarukan, transportasi, air bersih, pertanian, digital, hingga rantai pasok pangan. Keenam sektor prioritas—mulai dari mineral kritis, energi hijau, hingga pendidikan—menjadi fokus investasi jangka panjang yang akan menentukan posisi ekonomi Indonesia di masa depan.
Meski membawa peluang besar berupa modal, teknologi, dan inovasi, masuknya Australia juga menghadirkan tantangan bagi Indonesia. Negara ini datang bukan hanya untuk bermitra, tetapi juga untuk mengamankan posisi dalam persaingan ekonomi global. Pertanyaannya kini: apakah Indonesia siap mengelola arus investasi raksasa ini, atau justru menjadi pasar empuk yang diperebutkan berbagai negara?












