Mphnews – Dunia hari ini bergerak di antara harapan dan kecemasan. Ketegangan geopolitik di berbagai belahan dunia membuat istilah Perang Dunia Ketiga tak lagi terdengar seperti cerita fiksi ilmiah. Di tengah arus informasi yang deras, muncul satu pertanyaan penting yang sering luput dibahas: jika krisis global benar-benar terjadi, bagaimana nasib keuangan kita?
Sejarah mencatat, perang besar tidak hanya menghancurkan kota dan infrastruktur, tetapi juga mengguncang sistem ekonomi. Dua ancaman utama yang selalu muncul adalah hiperinflasi dan kelangkaan barang. Ketika negara memusatkan sumber dayanya untuk kepentingan militer, rantai pasok terganggu, perdagangan internasional terhambat, dan barang kebutuhan sehari-hari menjadi langka. Akibatnya, harga melonjak drastis, sementara nilai mata uang bisa tergerus dalam waktu singkat.
Dalam kondisi seperti itu, pola pikir tentang uang harus berubah. Bukan lagi soal berapa banyak saldo di rekening, melainkan seberapa besar daya beli yang bisa dipertahankan. Langkah paling mendasar dan sering diabaikan adalah melunasi utang konsumtif, terutama yang berbunga tinggi. Di masa krisis, suku bunga cenderung naik, sementara pendapatan berisiko menurun atau bahkan hilang. Bebas dari utang memberi ruang napas dan fleksibilitas yang sangat berharga.
Setelah utang terkendali, fondasi berikutnya adalah dana darurat yang lebih kuat. Jika dalam kondisi normal enam bulan pengeluaran dianggap cukup, maka di masa ketidakpastian global, idealnya dana darurat mampu menutup kebutuhan hidup selama enam hingga dua belas bulan. Tak kalah penting, penyimpanan dana perlu didiversifikasi. Mengandalkan sistem perbankan dan digital sepenuhnya berisiko jika terjadi gangguan listrik atau serangan siber. Menyimpan sebagian kecil uang tunai fisik dalam pecahan kecil dapat menjadi penyelamat saat sistem lumpuh.
Untuk melindungi nilai kekayaan dari inflasi, aset keras seperti emas tetap relevan. Emas bukan alat untuk cepat kaya, melainkan penyimpan nilai yang diakui lintas negara dan zaman. Selain itu, bagi yang memiliki kemampuan, tanah produktif dan pengelolaan stok pangan rumah tangga juga menjadi bentuk pertahanan ekonomi yang nyata.
Namun, aset paling berharga di masa krisis bukan hanya uang atau emas, melainkan manusia itu sendiri. Hubungan sosial, komunitas yang solid, dan keterampilan praktis—seperti memperbaiki barang, keterampilan medis dasar, atau keahlian teknis—dapat menjadi “mata uang” baru ketika sistem formal melemah.
Pada akhirnya, mempersiapkan keuangan bukan berarti berharap perang terjadi. Justru sebaliknya, persiapan adalah cara agar kita tetap tenang, rasional, dan mampu melindungi keluarga di tengah ketidakpastian. Harapan itu penting, tetapi tanpa persiapan, harapan saja tidak cukup.












