Ketika Bangsa Takut Berpikir: Mengurai Penjajahan Pikiran ala Tan Malaka

ga,mbar ilustrasi

Mphnews – Tan Malaka dikenal luas sebagai tokoh pejuang kemerdekaan Indonesia. Namun, di balik perannya dalam sejarah politik, ia juga merupakan pemikir radikal yang tajam mengkritik akar persoalan bangsa: cara berpikir masyarakatnya. Bagi Tan Malaka, penjajahan paling berbahaya bukanlah penjajahan fisik oleh senjata atau tentara, melainkan penjajahan pikiran. Ia melihat bangsa ini terbelenggu oleh pola pikir irasional yang diwariskan turun-temurun, dibungkus tradisi, mistik, dan ketakutan.

Dalam pandangan Tan Malaka, banyak persoalan hidup justru diselesaikan dengan jalan pintas yang tidak masuk akal. Ketika usaha gagal, orang lebih mudah menyalahkan santet daripada mengevaluasi strategi bisnis. Saat sakit, sebagian memilih dukun dibanding tenaga medis. Bahkan urusan jodoh, rezeki, dan keselamatan sering diserahkan pada jimat, primbon, atau air doa. Pola pikir semacam ini disebutnya sebagai logika mistika—sebuah logika semu yang tampak meyakinkan, tetapi sejatinya mematikan akal sehat.

Masalahnya, masyarakat yang enggan berpikir kritis justru lebih mudah dikendalikan. Ketakutan menjadi alat ampuh. Tanpa perlu senjata, penguasa cukup memelihara rasa takut, membungkusnya dengan mistik atau narasi agama, maka kepatuhan bisa tercipta. Dalam kondisi seperti ini, berpikir dianggap berbahaya. Bertanya dinilai kurang iman, mengkritik dicap sesat, dan berpikir berbeda dianggap ancaman.

Kegelisahan inilah yang melahirkan karya penting Tan Malaka berjudul Madilog (Materialisme, Dialektika, dan Logika). Buku ini bukan ditulis untuk kalangan elit akademik, melainkan sebagai senjata intelektual bagi rakyat kecil. Madilog mengajarkan bahwa berpikir logis adalah hak setiap manusia. Dengan logika dan ilmu pengetahuan, manusia dapat memahami sebab-akibat, membedakan fakta dan ilusi, serta tidak mudah diperdaya.

Ironisnya, gagasan ini justru dianggap berbahaya. Madilog pernah dilarang, dan nama Tan Malaka lama dikubur dalam museum sejarah, bukan dipelajari secara kritis. Padahal, pemikirannya sangat relevan hingga hari ini. Praktik mistik masih merajalela, bahkan telah menjadi industri yang menguntungkan. Produk-produk berlabel “berkah”, “ruqyah”, atau “air doa” dipasarkan luas, memanfaatkan ketakutan dan keputusasaan masyarakat.

Dampaknya terasa di berbagai bidang. Pendidikan sering kali lebih menekankan hafalan daripada nalar. Anak kritis justru dibungkam. Di bidang ekonomi, banyak pelaku usaha sibuk mencari hari baik atau aura positif, tetapi enggan belajar pemasaran digital, data, dan inovasi. Akibatnya, bangsa tertinggal jauh sementara negara lain melaju dengan sains dan teknologi.

Pesan Tan Malaka jelas: bangsa tidak akan pernah benar-benar merdeka jika rakyatnya takut menggunakan akal. Logika bukan musuh iman, melainkan anugerah untuk memahami realitas. Selama masyarakat lebih takut pada hal gaib daripada ketidakadilan nyata, lebih percaya mitos daripada data, maka kebodohan akan terus diwariskan. Berpikir bukan pilihan, melainkan keharusan—jika bangsa ini ingin maju dan berdaulat sepenuhnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *