Garuda, Warisan Siwa-Buddha dan Gagasan Persatuan dalam Sejarah Majapahit

Gambar Ilustrasi dibuat dengan AI
Gambar Ilustrasi dibuat dengan AI

Mphnews – Garuda sebagai lambang resmi Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak dapat dilepaskan dari perjalanan panjang kebudayaan Nusantara yang dipengaruhi tradisi Hindu-Buddha. Dalam lintasan sejarah, burung Garuda bukan sekadar makhluk mitologis, melainkan simbol yang mengandung makna keagamaan, kekuasaan, dan pandangan hidup masyarakat pada masa lampau. Jejaknya memperlihatkan bagaimana unsur kebudayaan dari luar diterima, diolah, dan diberi makna baru dalam kehidupan masyarakat Nusantara.

Dalam mitologi India, Garuda dikenal sebagai makhluk agung yang memiliki hubungan erat dengan Dewa Wisnu. Dalam tradisi Hindu aliran Waisnawa, Garuda merupakan wahana atau kendaraan Dewa Wisnu. Sementara itu, dalam sejumlah tradisi Buddhis, Garuda digambarkan sebagai makhluk berukuran raksasa yang menghuni alam Catummaharajika. Beragam penggambaran tersebut menunjukkan bahwa Garuda menempati kedudukan penting dalam khazanah keagamaan Asia.

\Warisan kebudayaan itu memperoleh konteks historis yang menarik ketika melihat kehidupan Kerajaan Majapahit. Kerajaan yang mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Hayam Wuruk tersebut dikenal memiliki corak keagamaan Siwa-Buddha. Perbedaan keyakinan tidak serta-merta meniadakan kemungkinan hidup berdampingan. Sebaliknya, tradisi keagamaan itu berkembang dalam suatu tatanan politik dan kebudayaan yang berusaha menjaga keteraturan kerajaan.

Dalam penyelenggaraan kehidupan keagamaan, Majapahit mengenal pejabat yang mengurusi kepentingan umat Siwa dan Buddha. Jabatan Dharmadhyaksa Kasaiwan berkaitan dengan urusan agama Siwa, sedangkan Dharmadhyaksa Kasogatan menangani kepentingan agama Buddha. Keduanya didukung pejabat keagamaan yang dikenal sebagai Dharma Upapatti. Keberadaan lembaga tersebut mencerminkan upaya kerajaan mengatur kehidupan beragama sekaligus menjaga keseimbangan di tengah keragaman keyakinan.

Pemerintahan Hayam Wuruk juga memperlihatkan hubungan erat antara kekuasaan, tradisi leluhur, dan legitimasi politik. Dalam Kakawin Nagarakretagama, perjalanan sang raja ke wilayah Singhasari menjadi salah satu kisah penting. Ziarah ke tempat pendharmaan para leluhur, termasuk Kertanegara, menunjukkan penghormatan terhadap mata rantai sejarah yang menghubungkan Singhasari dengan Majapahit. Hubungan itu tidak hanya bersifat genealogis, tetapi juga mengandung dimensi spiritual dan politik.

Dalam struktur keagamaan kerajaan, kaum resi dan brahmana mempunyai kedudukan penting sebagai pemimpin ritual, ahli kitab, serta penasihat. Pengetahuan mereka meliputi ajaran agama, filsafat, sastra, dan bahasa Sanskerta.

Dengan demikian, sejarah Garuda dan Majapahit mengingatkan bahwa kebudayaan Indonesia terbentuk melalui perjumpaan berbagai tradisi. Nilai persatuan tidak lahir dari penghapusan perbedaan, melainkan dari kemampuan masyarakat membangun kehidupan bersama. Dalam perspektif sejarah, warisan Siwa-Buddha menjadi salah satu cermin perjalanan panjang Nusantara dalam merawat keragaman sebagai bagian dari identitas kebangsaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *