Batang  

Fenomena Putus Sekolah 2026: Data Terbaru dan Upaya Penanganannya di Batang

gambar Ilustrasi dibuat dengan AI
gambar Ilustrasi dibuat dengan AI

Mphnews, Batang – Di tengah aktivitas belajar mengajar yang tampak normal di ruang-ruang kelas Kabupaten Batang, tersimpan persoalan serius yang perlahan mencuat ke permukaan. 

Kursi-kursi yang kosong bukan sekadar pemandangan biasa, melainkan sinyal adanya ribuan anak yang tak lagi melanjutkan pendidikan formal.

Data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Batang per 27 April 2026 menunjukkan angka putus sekolah yang cukup mengkhawatirkan. Meski masih bersifat sementara, tercatat sebanyak 551 siswa tingkat SD, sekitar 1.400 siswa SMP, serta 1.145 siswa SMA/SMK tidak lagi aktif bersekolah.

Kepala Disdikbud Batang, Bambang Suryantoro Sudibyo, menyebut angka tersebut bukan sekadar deretan statistik. Di baliknya, ada cerita panjang tentang upaya sekolah mempertahankan hak belajar anak-anak. 

 
Salah satu langkah yang rutin dilakukan adalah metode “jemput bola”, di mana guru mendatangi langsung rumah siswa melalui program home visit.

“Kadang siswa tidak masuk tanpa keterangan. Sekolah sudah mencoba menghubungi, lalu dilanjutkan dengan home visit. Ada yang akhirnya mau kembali sekolah,” ujar Bambang saat ditemui, Selasa (28/4/2026).

Upaya tersebut kerap membuahkan hasil, meski tidak selalu mudah. Di salah satu wilayah pelosok Batang, seorang siswa kelas 6 SD hampir kehilangan kesempatan melanjutkan pendidikan karena lama absen. 

 
Berkat kepedulian guru yang mendatangi rumahnya, siswa tersebut akhirnya kembali ke bangku sekolah.

Selama ini, faktor ekonomi sering dianggap sebagai penyebab utama anak putus sekolah. Namun, Bambang menilai persoalan tersebut jauh lebih kompleks. Ia menemukan bahwa kondisi keluarga dan pola asuh turut memainkan peran besar.

“Ada juga anak dari keluarga mampu yang justru putus sekolah karena kurang perhatian. Jadi bukan semata-mata soal ekonomi,” jelasnya.

Menurutnya, pendidikan anak ditopang oleh empat pilar utama, yakni sekolah, orang tua, masyarakat, dan lingkungan. 

 
Ketika salah satu pilar melemah, maka risiko anak untuk meninggalkan pendidikan semakin besar.

Lingkungan pergaulan menjadi tantangan tersendiri. Kebiasaan begadang dan nongkrong hingga larut malam dinilai berdampak langsung pada motivasi belajar siswa. Akibatnya, anak cenderung bangun kesiangan dan kehilangan semangat untuk berangkat ke sekolah.

“Ada yang tiap malam begadang, akhirnya malas sekolah. Itu jelas pengaruh lingkungan,” tegas Bambang.

Ia menekankan bahwa kunci utama pencegahan putus sekolah tetap berada di lingkungan keluarga. Peran orang tua dalam memberikan perhatian dan pengasuhan yang tepat menjadi faktor penentu keberhasilan pendidikan anak.

“Sekolah sudah berupaya maksimal, guru bahkan datang ke rumah. Tapi kalau orang tua tidak mendukung, tentu akan sulit,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *